Suku Tengger Bromo, Kereligiusan Dalam Kehidupan Adat Sosialnya

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin

Suku tengger Bromo menyakini bahwa Gunung Bromo merupakan pusat dari kehidupan dan kekuatan mereka, yang terletak di antara 4 wilayah, Kabupaten Malang (Ngadas/Gubuk Klakah), Kabupaten Pasuruan (Tosari/Wonokitri), Kabupaten Probolinggo (Sukapura) dan Kabupaten Lumajang (Senduro).

Pembagian wilayah tersebut menggambarkan sebuah kekuatan dalam ajaran jawa kuno, di kenal dengan istilah kejawen “Kiblat Papat Limo Pancer” yang bisa di artikan keberadaan masyarakat  tengger sebagai kiblat papatnya / berada di empat wilayah dan Bromo sebagai pancernya (di tengah tengahnya).

Asal suku tengger di gunung bromo berawal dari situasi memburuknya kekuasan Majapahit dan di gunakannya kawasan bromo sebagai tempat pengasingan / perlindungan seorang putri kerajaan yang bernama Rara Anteng dan para pungawanya.

Dalam penjalanan untuk mencari tempat perlindungan, sampailah sang putri di pegunungan Tengger dan kemudian melanjutkan perjalanan menuju bukit Penanjakan. Merasa aman dan nyaman akhirnya mereka memutuskan untuk bertempat tinggal di sana.  

Memeburuknya kondisi politik yang di alamai majapahit, berdampak juga pada kerajaan kediri. Akibatnya Joko seger seorang putar Brahmana juga melakukan pengasingan diri di rumah Pamannya yang berada di Desa Kedawung. Sebuah desa kecil yang berada tidak jauh dari bukit panajakan.

Pada saat pengasingan itulah Joko tengger mendapatkan informasi bahwa ada seorang putri Majapahit yang juga melakukan pengasingan dan tinggal di Penanjakan. Tidak buang buang waktu Joko seger segera mencari dan menemuinya. Dari sinilah mereka bertemu dan sepakat untuk menikah. 

Dari itulah, nama tengger terlahir. Di ambil dari gabungan nama Roro Anteng dan Joko Seger, “Tengger” merupakan singkatan dari “Teng” akhiran nama Roro Anteng dan “Ger” akhiran nama Joko Seger.

Hingga saat ini masyarakat Tengger masih memegang kuat keyakinan bahwa mereka adalah keturunan Roro Anteng dan Joko Seger.

suku tengger Bromo
Sendratari Roro Anteng Dan Joko Seger

Sejarah Suku Tengger Mangadakan Upacara Yadnya Kasada

Di usia pernikahan hingga 8 tahun, mereka belum juga di karunia seorang anak. Dari Hal itulah yang mendasari Rara Anteng dan Joko seger melakukan semedi mengharap kepada Sang Hyang Widi agar segera di karuniai seorang anak, yang dilakukan selama enam tahun, dengan berganti ganti kiblat / arah di setiap tahunnya.

Tidak sia sia, akhirnya permintaan di kabulkan oleh Sang Hyang Widi, namun dengan sebuah syarat anak terakhir dari mereka harus di korbankan ke Kawah Bromo.

Tidak lama, akhirnya mereka benar di karunia anak dan hidup bahagia bersama. Terlena dengan kebahagian dan rasa cinta pada anak anaknya, Rara Anteng lupa akan janjinya. 

Mendengar suara gemuruh dan keluarnya semburan api dari kawah bromo, Rara anteng dan Joko Seger sadar bahwa Sang Hyang Widi menuntut janjinnya agar di tepati untuk mengorbankan anak terakhirnya. Tidak segera melaksanakan janjinya, tapi malah menyembunyikan  R kusuma pada sebuah desa kecil di lereng bromo, yaitu Desa Ngadas.

Sang Hyang Widhi sangat marah / murka karena di ingkari janjinya, sehingga menyemburkan api bromo sampai di desa Ngadas dan meluluh lantakan semua kawasan yang dilaluinya. Melihat hal tersebut, R Kusuma tidak tega dan akhirnya pergi ke Kawah Bromo memenuhi janji orang tuanya untuk merelakan diri berkorban mewakili saudara-saudaranya dengan harapan kedepan semua bisa hidup damai dan rukun.

Dalam pengorbanaya, R Kusuma berpesan kepada saudara dan masyarakat agar setiap tanggal 14 Kasada kawah bromo di beri sesaji berupa hasil bumi, dengan tujuan kelak setelah peninggalanya tidak terjadi lagi keangkara murkaan. Peristiwa pengorbanan seorang R kusuma inilah yang menjadi sejarah adanya upacara Kasada di bromo yang masih dilaksanakan sampai detik ini.

Falsafah Leluhur Suku Tengger Bromo Yang Masih Di Pegang Kuat Sampai Saat Ini

Sesuai ajaran hidup yang terus dijaga turun temurun, masyarakat Tengger mengenal konsep “Senanti Panca Setia” yaitu bagaimana tata cara berperilaku dalam menjalani kehidupan, baik untuk hubungan antar sesama manusia maupun hubungan dengan alam semesta. Tidak pernah tergantikan, falsafah ini dipandang sebagai pedoman hidup yang tetap relevan terhadap perkembangan jaman. 

  • # Setya Budaya (taat, tekun, mandiri),
  • # Setya Wacana (setia pada ucapan),
  • # Setya Semaya (setia pada janji),
  • # Setya Laksana (patuh, tahu, taat) dan
  • # Setya Mitra (setia kawan).

Selain itu, Masyarakat adat Tengger juga memiliki sifat dan pandangan hidup yang tercermin akan sebuah harapan. Waras, Wareg, Wastra, Wisma, dan Widya yang masing masing memiliki arti Sehat, Kenyang, Tercukupi kebutuhan Sandang, Memiliki tempat tinggal, dan menguasai ilmu. Sebagai pandangan hidup mengenai cara berpikir mereka adala :

  • # Prasaja yang berarti jujur apa adanya
  • # Prayoga yang berarti selalu bersikap bijaksana
  • # Pranata yang berarti senantiasa patuh terhadap Raja / Pimpinan
  • # Prasetya yang berarti memegang teguh setya / janji
  • # Prayitna yang berarti selalu waspada

Agama, Adat Dan Ciri Khas Suku Tengger Bromo

Mayoritas Suku Tengger beragama Hindu dengan ajaran yang masih menganut kepercayaan dan tradisi pada zaman Majapahit, seperti cara berdoa, bersaji, berkurban dan tarian adat suku tengger. Hebatnya di kehidupan masyarakatnya tidak berlaku sistem kasta dan tidak mengenal nama Marga (keluarga). Mereka memanggil nama orang yang sudah berkeluarga dan mempunyai keturunan, dengan nama anak pertama.

Adat mereka mengharuskan setiap anak laki-laki yang lahir pada hari Wage (di penanggalan Jawa kuno) untuk mengenakan anting di telinga kiri sebagai penanda dan bahasa yang mereka gunakan dalam kehidupan sehari hari adalah bahasa Jawa Tengger atau bahasa jawa kuno.

Ciri khas mereka adalah berpenampilan dengan menggunakan sarung sebagai penghangat. Istilah mereka menyebut cara pemakain sarung ini dengan nama “kawengan” pelindung agar tidak kedinginan. Selain pelindung dari hawa dingin, pemakaian sarung ini juga dipercaya sebagai pengendalikan diri untuk perilaku dan ucapan bermasyarakat.

Mata Pencaharian Masyarakat Suku Tengger

Mata pencaharian masyarakat suku tengger Bromo sehari hari adalah bertani atau berladang dengan menggunakan sistem terasiring yang sumber airnya hanya bergantung pada curah hujan dan aliran sungai.

Namun, berkah terkenal dan viralnya wisata bromo, masyarakat jadi mendapatkan tambahan penghasilan dengan jasa menyewakan jeep, tempat menginap, villa, homestay, kuda, toko souvenir dan warung makan.

Manfaat yang besar mereka dapatkan karena menjaga dengan baik kearifan bundaya & adat yang mereka warisi dari leluhurnya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Open chat
1
hallo, selamat datang di erc trans,
ada yang bisa kami bantu?